Home Uncategorized Penggunaan Kaporit Dalam Pengolahan Air Menjadi Siap Pakai

Penggunaan Kaporit Dalam Pengolahan Air Menjadi Siap Pakai

150
0

Penggunaan kaporit pada pengolahan air – Kebutuhan air bersih yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Seiring dengan bertambahnya populasi di suatu daerah. Tuntutan hidup juga tumbuh dan berkembang. Akibatnya ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari semakin menipis dan tidak mencukupi.

Sarana dan prasarana, terutama di perkotaan, dibangun oleh pemerintah. Namun dengan kapasitas yang terbatas, tingkat pelayanan hanya mencakup 50% dari total penduduk. Dengan demikian, 50% penduduk menggunakan sumber air lain. Diantaranya adalah sumur bor, sumur gali, mata air, bahkan ada yang menggunakan air sungai secara langsung.

Dengan kondisi tersebut maka perlu adanya alternatif solusi bagi masyarakat. Dalam rangka pemanfaatan dan pengolahan sumber air bersih untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Berdasarkan pengetahuan tentang sumber air dan pencemaran, persyaratan kualitas air dan proses pengolahan.

Sistem pengelolaan sumber daya air di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang Sumber Daya Air No. 7 tahun 2004. Namun, undang-undang tersebut tetap merupakan undang-undang umum dan tidak menentukan sistem pengolahan air yang memadai.

Pengolahan Air Paling Sederhana Dalam Sejarah Manusia

Sejak api dikenal oleh manusia, sistem atau metode pengolahan air (terutama metode untuk mengolah air minum) telah dikembangkan. Cara paling umum adalah dengan merebus air untuk diminum airnya. Namun cara ini hanya berlaku untuk sumber air bersih.

Pemanasan atau perebusan hanya untuk memastikan bahwa bakteri yang terkandung di dalam air terbunuh. Sedangkan untuk sumber air keruh (berwarna), berbau dan berasa, cara ini tidak bisa langsung digunakan. Karena masih banyak yang tahapan harus dilakukan agar airnya bisa dikonsumsi.
Berikut tahapan dalam pengolahan air termasuk didalamnya penggunaan kaporit dalam pengolahan air.

Artikel lain yang mungkin anda tertarik Cara Membuat Boba Dengan Mudah dan Enak

Proses Pengolahan Air

Secara umum tahapan pengolahan air dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1.Tahapan Penampungan Awal (Water Intake)

Satuan ini dinamakan satuan Sadap Air (intake). Unit ini berfungsi sebagai penampung air di sumber air Anda. Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi dengan filter Bar Sceen yang dapat digunakan sebagai pre-filter untuk benda-benda yang terendam (misalnya daun, kayu, dan benda lainnya).

2. Tahapan Pengolahan (Water Treatment)
Pada bagian ini, air dari unit penyimpanan awal akan diproses dalam beberapa langkah:

     a. Langkah-langkah koagulasi (koagulasi)
Pada tahap ini, air pada tangki awal diolah dengan menambahkan tawas (aluminium) atau zat yang mirip dengan garam besi (seperti garam besi) atau menggunakan sistem pencampuran cepat (Rapid Mixing).

Air kotor atau keruh biasanya karena mengandung berbagai partikel koloid yang tidak terpengaruh oleh gravitasi, sehingga tidak dapat mengendap dengan sendirinya.

Tujuan tahap ini adalah untuk menghancurkan partikel koloid (zat yang mengaburkan air) sehingga membentuk partikel kecil, tetapi masih sulit untuk mengendap sendiri.

     b. Langkah flokulasi
Proses flokulasi adalah proses menghilangkan kekeruhan dari air dengan menggumpalkan partikel menjadi partikel yang lebih besar (Particle Floc).

Pada tahap ini, partikel kecil di dalam air akan mengental menjadi partikel yang lebih besar (flok) sehingga dapat mengendap dengan sendirinya pada proses selanjutnya (akibat gaya gravitasi).

Proses flokulasi dilakukan dengan pengadukan lambat (Slow Mixing).

      c. Langkah Sedimentasi
Pada tahap ini, partikel yang terflokulasi secara alami akan mengendap di dasar tangki karena massa jenisnya lebih berat daripada massa jenis air unsur. Kemudian air mengalir ke tahap filtrasi di unit filter.

     d. Langkah-langkah Penyaringan (Filtrasi)
Pada tahap ini air disaring melalui media filter yang umumnya terdiri dari material berupa pasir dan kerikil silika. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan bahan yang larut dan tidak larut.

Biasanya setelah proses penyaringan ini, air mengalir langsung ke unit penyimpanan akhir. Agar mendapatkan kualitas air yang bagus dan meningkat maka diperlukan proses tambahan sebagai berikut:

     – Proses pertukaran ion (pertukaran ion)
Proses pertukaran ion dirancang untuk menghilangkan kontaminan anorganik (polutan) yang tidak dapat dihilangkan dengan filtrasi atau presipitasi.

Dalam proses ini juga digunakan untuk menghilangkan arsenik, kromium, kelebihan fluorida, nitrat, radium dan uranium.

     – Proses Penyerapan (absorpsi)
Proses ini bertujuan untuk menyerap / menghilangkan polutan organik, senyawa penyebab rasa, bau dan warna. Biasanya memasukkan bubuk arang aktif ke dalam air.

     – Proses desinfeksi (desinfection)
Sebelum masuk ke unit penyimpanan akhir (reservoir), air harus terlebih dahulu melalui proses desinfeksi. Artinya, proses penambahan zat kimia klorin ditujukan untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme berbahaya di dalam air.

3. Unit Penampungan akhir (reservoir)
Setelah memasuki tahap ini berarti air sudah siap untuk disalurkan ke masyarakat.

Penggunaan kaporit (Chlorin) dalam pengolahan air sebaiknya tidak melebihi batas dosis yang diijinkan untuk menghindari efek yang tidak diinginkan karena konsumsi kaporit yang berlebihan. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda. Senantiasa lakukan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari anda.

Baca Juga : Simak Cara Membuat Minyak VCO Sendiri di Rumah Anda